More than the words, n find more a sense from the masterpiece. cos it's trully deeply the art from heart.

Rabu, 06 Agustus 2014

Damai Masa Lalu

Mestinya minta maaf pada diri sendiri dahulu
Mestinya berjanji pada diri sendiri dahulu
Gadismu ini tidaklah menepati janji
Gadismu ini takkan meminta maaf untuk itu
Bukankah dia juga tidak akan memaafkanmu?
Mestinya berdamai dahululah dengan hati
Biar semua berlalu jangan bawa bersama jiwamu
Jangan bergantung, terombang-ambing ditengah kenangan
Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya
Gadismu ini sajalah yang tidak bahagia
Gadismu ini sajalah yang berjalan bersama rasa bersalahnya 
Mestinya dia melihat masa depannya, bukan kebahagianmu
Mestinya Memaafkan dirinya sendiri untukmu 
Gadismu ini membawa masalalu yang gentayangan bagai hantu
Sampai lupa kalau pintu selalu tertutup pada yang baru
Mestinya berdamai dahulu dengan masa lalu
Kunjungi dia sesaat setiap kamu rindu
Gadismu ini belajar dari penderitaanmu 
Gadismu ini melihat banyak saat kembali dari kenangan
Mestinya menatap jiwa baru
Mestinya melangkah penuh yakin
Gadismu ini mulai bermimpi dengan yang baru







Minggu, 25 Mei 2014

Syair Biru Malam Sendu


Kutanya pada malam tegarkah aku bagai karang?
Saat sendiri tanpamu
Pria terhebat dalam hidupku
Kenapa meninggalkanku saat yang kubutuhkan adalah kebijaksanaanmu
Manusia-manusia  naïf itu menyemburkan lahar ke wajahku
Panas, perih, luka, tanpamu bagaimana aku bisa
Manis wajah mereka hilang seiring pudarnya wajahmu diingatanku
Aku tidak takut menghantam badai, tapi aku takut akan pesanmu saat itu
Kurindu berbagi malam biru dengamu
Mengutuk harta yang membuat manusia buta
Terjaga meredam murung agar airmatamu tidak terjatuh
Demi tuhan kenapa malam terakhir itu kita lalui dengan sendu?
Tak kusesali kau pergi, jutaan airmata ini hanyalah penyembuh luka
Karena kau priaku tidak akan pernah kembali lagi
Sesak dada terisi penyesalan  ingin juga kutumpahkan
Idealismemu yang terikat padaku mencoba menutup lubang kosong dalam hati
Tapi bagaimanapun wajah kecewa itu akan kupendam menjadi dendam
 Katankanlah dari ujung langit sana, bagaimana aku harus berbuat?
Mimpi indah tentang kehidupan telah hancur bersamamu
Manusia-manusia konyol itu telah berani menertawakan setiap airmata yang jatuh dari pipiku
Lantas apa aku harus melupakan kebijakanmu dan membuat bajingan diriku sendiri?
Kau selalu berkata semua niat yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula
Sekalipun semua berpaling darimu kau tetap akan tersenyum bukan?
Aku tidak tahu bagaimana menjadi bijak saat kau tidak disisiku
Bisakah aku menawar rasa sakit dengan perbuatan baik itu sendiri?
Kau priaku dari ujung langit sana, bicaralah sekali saja dalam mimpi pun tak apa

~ for my beloved father, the man that my mother adore ~ 

Selasa, 13 Mei 2014

Cinta ( Mana Bisa Lupa )

Datang lagi kah rembulan malam ini?
Membuang rindu, menghapus sepi
Jangan katakan kali ini kau sementara
Jangan katakan kali ini kau bercanda
Rindu..., Rindu..., Rindu..., mana bisa aku lupa

Wahai rembulan malam penjaga lelapku
Bagaimana aku ingin melihat wajahmu?
Pandangikah hamparan bintang dengan mata tertutup
Seiring miris nelangsa hati terbuai bayangmu dalam gelap
Pahit..., pahit..., pahit...., mana bisa aku lupa

Mimpi datang mengandai-andai
Bagaimana aku ingin pelukan hangatmu malam ini?
Terjaga oleh mimpi tanpa peduli hanya ilusi bukan nyata
Langkah kakimu menghampiri, memeluk, mencium, seolah berkata
" sayang..., sayang..., sayang..., mana bisa aku lupa"

Kita beri nama ini sebuah tawar menawar takdir yang semu
Bagaimana saat aku merindukan suara mu?
Ada banyak lirik untuk mengekspresikan hati yang terluka
Walaupun hanya akan selalu bernyanyi dengan nada yang sama
Cinta..., cinta..., cinta..., Mana bisa aku lupa.




Jumat, 25 April 2014

Pragmatisme Cinta

Jangan ingatkan bagaimana kau menyanyikan sebuah lagu untukku
Karena kau mengharap sesuatu setelah itu.
Hapus ingatan tentang sebuah keromantisan tiada tara karena ada banyak perasaan yang bermain disana.
Kita berjalan bersama kebutaan. Aku sanggup hidup, aku sanggup berjanji tanpa peduli suatu saat itu akan kuingkari.
Aku bahagia saat kau peluk, tangisan datang bersama nafsu amarah dan konflik kemudian.
Tidak ada yang bisa kau tawarkan melainkan cinta itu katamu, itu hanya hasrat manusia semata pikirku.
Denganmu pernah kumencoba untuk menghilangkan pragmatis cintaku tapi malah kaulah orang yang membuat tawar menawar kemudian.
Rupanya seiring waktu berjalan matapun semakin terbuka. Kita harus melihat kiri kanan sebelum berjalan itulah katamu.
Lalu kausebut apa hubungan itu? Sebuah pasar tradisional kah?

Kamis, 10 April 2014

26 Tahun : Sebuah Renungan atau Sebuah Curahan?

Begitu terbangun pada hari kamis 3 April kemarin, saya berpikir, hei... Saya sudah 26 tahun  dan apa yang telah saya perbuat selama ini? Apakah sudah sesuai dengan apa yang saya inginkan ataukah malah jauh dari ekspetasi?. Pada setiap hari ulang tahun saya, saya selalu sempatkan beberapa jam untuk mengevaluasi diri. Dan sepertinya pada 26 tahun umur saya ini saya mendapatkan banyak pemikiran yang amat berharga. 

Permasalahan pertama adalah Terkadang ketika kita bertemu dengan orang yang kita anggap spesial akan langsung mempunyai ekspektasi yang melebihi dari selama ini kita pikirkan. Anggaplah kita selama ini selalu membuat skala prioritas untuk yang kita anggap spesial dengan sebuah feedback dimana suatu saat dia akan membuat perlakuan sama dengan yang kita inginkan. Saya selalu pikir manusia disekeliling saya juga punya pemikiran seperti itu. Memang pada dasarnya hidup lebih sering ada take and give dibanding tanpa pamrih. Jarang ada orang yang berbuat baik tanpa maksud tertentu. Ada saat dimana seseorang begitu baik dan melakukan segalanya untuk kita namun ketika keinginannya terhadap kita tidak tercapai maka dia akan melupakan kita begitu saja. 

Permasalahan kedua adalah bagaimana kita selalu tergantung dan terlalu berharap terhadap janji yang orang lain berikan. Sejujurnya setiap orang sudah pasti pernah tidak menepati janjinya. Hal itu bisa dimaklumi dan dimaafkan tapi setelah kita memaafkan dan memaklumi sudah tentu kita punya penilaian yang berbeda terhadap orang tersebut. Kebanyakan orang sering kali menjanjikan sesuatu dengan begitu mudahnya dan ketika dia merasa tidak memungkinkan untuk memenuhi janji itu maka dia akan mencoba mengulur-ngulur waktu , membuat alasan, dan mencari segala kemungkinan alasan pembenaran yang menjadikan mereka sebagai mulut manis pemberi harapan palsu.

Permasalahan ketiga adalah mengenai analisa prilaku seseorang terhadap kita. Ada banyak tipikal manusia dibumi ini tapi satu yang paling mengenaskan adalah orang yang dihadapan kita berbicara manis namun dibelakang kita selalu berkata buruk. Ada banyak orang yang suka berbuat superior terhadap orng lain, tidak pernah mau disalahkan dan selalu menyalahkan orng lain kalau ada sebuah kesalahan. Bukannya mencari solusi malah memperkeruh masalah dgn cara mecari alasan pembenaran sendiri melalui pembicaraan dibelakang layar tanpa berani berbicara langsung di publik yang terbuka.

Permasalahan keempat adalah ideologi yang menurut kalangan umum adalah salah. Baru belakangan ini saya berani berkata dengan terbuka bahwa saya adalah seorang rasionalis pendukung paham marxist dan seorang yang pro sekulerisme. Dimana ajaran-ajaran tersebut selalu di vonis salah dan sesat oleh semua kalangan beragama. Saya terkadang ingin menjelaskan bahwa itu hanya paham saja tidak ad hubungannya dengan agama, seperti tan malaka dan kamerad-kamerad revolusionir kiri lainnya yang tetap taat beribadah walaupun mereka adalah murid sejati dari Karl Marx, tapi ketidak terbukaan orang lain terhadap paham inilah yang membuat semua penganut dan penggagum paham ini dianggap tidak benar dan ada yang salah dengan mereka, karena mereka punya pemahaman yang berdasarkan pada peraturan agama. Saya terkadang berpikir memangnya ada yang salah dengan mempertanyakan sebuah kebijakan yang ada dalam sebuah agama jika itu memang benar-benar perlu di pertanyakan? Atau kita harus tetap diam dan menurut seperti apa kata agama walaupun itu salah?. Dan mereka kemudian menganggap saya lucu dan berkata " tunggulah suatu saat.., kamu akan mendapat hidayah" . 

Sebelum saya merenungi matang-matang pada hari saya pas berulang tahun yang ke 26 kemarin, reaksi saya terhadap permasalahan-permasalahan diatas mungkin tidak akan sama dengan sekarang. Mungkin saja sebelumnya saya begitu frontal dan berkoar-koar dalam menghadapi setiap permasalahan. Bagaikan aktivis garis keras yang secara tegas dan idealis berkata tidak untuk tidak dan iya untuk iya. Namun sekarang mungkin saya lebih berpikir secara fleksibel dan memikirkan segala kemungkinan.

Hal yang terpenting adalah bukan apa yang orang pikirkan tentang kita atau bukan apa yang orang lakukan terhadap kita melainkan bagaimana reaksi kita ketika orang lain memperlakukan kita seperti itu.
Rasa benci, marah, sakit hati, di khianati, dan dicemooh tentu saja ada di dalam hati namun hal yang terbaik adalah bukan membalas apa yang mereka perbuat terhadap kita melainkan merelakan dan menganggap itu semua pasti ada hikmahnya. 

Semua orang pasti memiliki alasan tertentu kenapa dia berbuat seperti itu dan sebagai seseorang kita juga harus selalu memikirkan alasan paling positif dari semua itu. Bukan untuk dapat memaklumi orang-orang yang membuat kita sakit hati melainkan hanya untuk suggest terhadap diri sendiri agar tidak terlalu larut dalam amarah dan rasa sakit berkepanjangan. Karena terkadang yang paling menyedihkan dari semua itu bukanlah kapabilitas seseorang dalam memenuhi janji ataupun dalam membuktikan kenyataan perkataannya melainkan bagaimana kita tidak akan bisa mempercayai orang itu lagi apa bila dia tidak punya kredibilitas tersebut. 

Yah.. Paling tidak saya tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan terhadap hal yang orang lain lakukan terhadap saya  sekalipun itu menyakitkan namun tetap saya merasa sedih karena lagi-lagi saya telah kehilangan orang-orang  yang tadinya mungkin bisa dipercaya ataupun punya kapabilitas.

Sabtu, 15 Februari 2014

That Man

That man who made me smile
That man who made me cry
That man with warm lips
That man has found my heart
I can't erease that man
I can't forget that man
That man is like my breath
That man  is living
That man, my love, my hurting heart
That man who doesn't know anything
I love you and i love you again my man
I have no choice but let you go
Altought my heart in pieces
Altough those memories stab me
It hurts me even more
That man my love, my hurting hurt
That man who doesn't know anything
Instead of tears instead of sadness
Forget me and live happily
When our lives end and we close our eyes
Remember me once then.

Rough translate from a song tittled "Keu Saram " by Lee Seung Chul.

Sabtu, 01 Februari 2014

The Beginners Pray ( For Sinabung

Oh... mother earth
We don't know how angry you are
We don't even know why you angry at us
Just please forgive us for what we have done
Save our landfarm from those sparks of the anger

Oh... the holy spirit of mountain
Just warn us when we did something wrong
Do not frighten us with those fire and the grain of dust
We don't know how to live our life withouth those forests and springs where your soul live in
Keep the mountain safety for us please

Oh.. our ancient
Just lead us to the right path
How to respect the spirit of the holy  mountain with his way
We always respect more with the other path reither than the holy spirit of our mountain

Ooh God.....
Who claimed has the power for everything in this world
Just give us a thought that what u've planned is always for a reason
That nothing happen without the purpose
You are the wise one who always we believe